SUPERVISI KLINIS DALAM SUPERVISI PENDIDIKAN

TUGAS VII PROFESI KEPENDIDIKAN
IMPLEMENTASI PENDEKATAN KLINIS DALAM SUPERVISI PENDIDIKAN, DAN TINDAK LANJUT YANG SEHARUSNYA DILAKUKAN

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Profesi Kependidikan
Dosen Pengampu : Dra. Rini Budiharti, M.Pd.

Anantyas Kusuma Dewi (K2311006)
Dwi Waryanti (K2311023)
Friska Ambarwati (K2311029)
Lis Murtini (K2311044)
Ovika Dwi L. (K2311058)
Yuli Priyanti (K2311088)

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2013

SUPERVISI KLINIS

A. PENDAHULUAN
Dewasa ini permasalahan mutu pendidikan sering dipersoalkan berkaitan dengan tuntutan peningkatan mutu sumber daya manusia untuk pembangunan bangsa ini. Banyak orang berpendapat bahwa mutu pendidikan masih sangat jauh dari yang diharapkan. Sehingga peningkatan mutu harus segera diupayakan mengingat pentingnya pengaruhnya tehadap keberhasilan pembangunan bangsa khususnya di era kompetisi global.
Banyak tulisan yang memberi problem solving berkaitan dengan ini. Baik dilakukan oleh individu sebagai praktisi dan ahli pendidikan maupun oleh institusi sebagai lembaga yang menangani kegiatan kependidikan. Diantaranya perlu upaya pengembangan kurikulum sebagai keseluruhan program pengalaman belajar, pengadaan buku-buku pelajaran beserta buku pegangan guru, penambahan dan penataran guru, dan pembinaan perpustakaan sekolah sebagai pusat atau sumber belajar.
Sampai sekarang sebagian besar dan mungkin semua problem solving di atas telah dilakukan. Namun perbaikan mutu pendidikan belum juga dapat dirasakan hasilnya bahkan untuk mengatakan tampak menuju ke perbaikan saja masih sulit untuk mengungkapkan indikator-indikatornya, kecuali indikator biaya untuk pengadaan buku, penataran guru dan lain-lain yang jelas jumlah nominalnya yang telah dikeluarkan.
Peningkatan mutu pendidikan, sebagaimana dikemukakan banyak ahli pendidikan secara teoritis tidak mungkin tercapai tanpa ikut pula diperhatikan masalah performansi guru. Para guru merupakan sumber daya manusia yang sangat menentukan keberhasilan program pendidikan karena kedekatan hubungannya dengan anak didik dalam pelaksanaan pendidikan. Setiap hari di sekolah guru berhubungan dengan anak didik untuk kegiatan belajar mengajar sehingga sangat menentukan keberhasilan anak didik dalam belajar yang akhirnya juga menentukan pencapaian tujuan pendidikan.
Berdasarkan hal itu maka upaya peningkatan mutu pendidikan harus memperhatikan peningkatan performansi guru berkaitan dengan pembelajarannya yang dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan. Salah satunya adalah melalui kegiatan supervisi pengajaran. Supervisi pengajaran dilakukan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam pembelajaran secara umum baik di kelas maupun di luar kelas. Terdapat beberapa pendekatan dalam kegiatan supervisi pengajaran ini misalnya pendekatan saintifik, pendekatan neo-saintifik, pendekatan artistik dan pendekatan klinikal. Masing-masing pendekatan memiliki penekanan yang berbeda-beda terhadap salah satu aspek dalam kegiatan supervisi pengajaran.
Pendekatan klinikal sebagai satu pendekatan yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah pendekatan yang memfokuskan kegiatan supervisi pengajaran pada pengembangan kemampuan mengajar guru di kelas. Atau dengan kata lain supervisi dengan pendekatan klinikal adalah kegiatan supervisi yang membantu guru mengembangkan penampilannya di kelas. Bagaimana konsep dan pendekatan ini dilakukan dalam supervisi akan menjadi cakupan bahasan tulisan ini.

B. PERMASALAHAN
Untuk meningkatkan mutu pendidikan dilakukan kegiatan supervisi kepada guru yang dianggap paling menentukan atau menjadi ujung tombak keberhasilan pendidikan. Tetapi dalam kenyataan seperti dinyatakan oleh Tim Khusus (2005) bahwa selama ini sistem supervisi yang berlaku masih kurang mendukung usaha pembaharuan dan peningkatan mutu pendidikan yang disebabkan banyaknya permasalahan.
Salah satu bentuk supervisi pendidikan adalah supervisi pengajaran yang dapat dilakukan dengan pendekatan klinikal untuk meningkatkan mutu/profesionalitas guru. Ada berbagai faktor atau permasalahan yang mendorong dikembangkannya supervisi klinik bagi para guru, antara lain sebagai berikut:
1. Dalam kenyataan supervisi ialah mengadakan evaluasi guru-guru semata di akhir semester dengan guru mengisi skala penilaian yang diisi anak didik mengenai cara mengajar guru. Tidak dianalisis mengapa guru mencapai tingkat penampilan tertentu.
2. Pusat pelaksanaan supervisi adalah supervisor, bukan pada apa yang dibutuhkan guru seperti keprofesionalan, sehingga guru merasa tidak memperoleh apa-apa dari supervisi.
3. Penggunaan merit rating (alat penilaian kemampuan guru) hanya mengukur tingkah laku guru yang bersifat terlalu umum, aspek-aspek tingkah laku yang mendasar seperti perasaan mereka (guru) tidak terdeskripsikan karena diagnosisnya tidak mendalam.
4. Umpan balik yang diperoleh dari hasil pendekatan yang ada, misalnya saintifik sifatnya memberi arahan, petunjuk, instruksi, tidak menyentuh masalah manusia yang terdalam yang dirasakan guru-guru, sehingga hanya bersifat di permukaan.
5. Tidak diciptakan hubungan identifikasi dan analisis diri, sehingga guru melihat konsep dirinya.
6. Praktek-praktek supervisi yang tidak manusiawi di atas itu, menyebabkan kegagalan dalam pemberian supervisi kepada guru-guru, dan karena itulah perlu supervisi klinik.

1. Pengertian Supervisi Klinis
Supervisi klinis berasal dari kata supervisi dan klinis. Supervisi diartikan sebagai suatu bimbingan dan tuntunan kearah perbaikan dan penyempurnaan proses pembelajaran. Sedangkan klinis dalam hal ini diartikan :
 Sebagai hubungan tatap muka antara supervisor dengan guru yang berfokus pada tingkah laku yang sebenarnya dari guru yang mengajar di kelas, maksudnya adalah tingkah laku yang sewajarnya, tidak dibuat buat.
 Sebagai kegiatan observasi dari dekat dan dilakukan secara cermat.
 Mendiskripsikan hasil/ data observasi secara detail.
 Sebagai hubungan yang kooperatif antara supervisor dan guru untuk bersama-sama mencermati penampilan guru dalam mengajar.
 Mendorong guru melihat kekuranganya dalam mengajar dan menemukan cara unutk mengatasinya.
Secara umum supervisi klinis diartikan sebagai bentuk bimbingan profesional yang diberikan kepada guru berdasarkan kebutuhannnya melalui siklus yang sistematis. Siklus sistematis ini meliputi: perencanaan, observasi yang cermat atas pelaksanaan dan pengkajian hasil observasi dengan segera dan obyektif tentang penampilan mengajarnya yang nyata.
Jika dikaji berdasarkan istilah dalam “klinis”, mengandung makna: (1) Pengobatan (klinis) dan (2) Siklus, yaitu serangkaian kegiatan yang merupakan daur ulang. Oleh karena itu makna yang terkandung dalam istilah klinis merujuk pada unsur-unsur khusus, sebagai berikut:
 Adanya hubungan tatap muka antara pengawas dan guru didalam proses supervisi.
 Terfokus pada tingkah laku yang sebenarnya didalam kelas.
 Adanya observasi secara cermat.
 Deskripsi pada observasi secara rinci.
 Pengawas dan guru bersama-sama menilai penampilan guru.
 Fokus observasi sesuai dengan permintaan kebutuhan guru.
Nana Sudjana (2008:5) mendiskripsikan bahwa supervisi klinis sebagai bantuan profesional yang diberikan kepada guru yang mengalami masalah dalam melaksanakan pembelajaran agar guru tersebut dapat mengatasi masalah yang dialaminya berkaitan dengan proses pembelajaran. Sedangkan menurut Cogan (1973), kegiatan pembinaan performansi guru dalam mengelola proses belajar mengajar. Menurut Sergiovanni (1987) ada dua tujuan supervisi klinis: pengembangan profesional dan motivasi kerja guru dan memperbaiki proses pembelajaran yang kurang efektif. Menurut Keith Acheson dan Meredith Gall dalam bukunya jurang antara tingkah laku mengajar nyata dengan tingkah laku mengajar ideal. Dengan demikian penulis dapat mendeskripsikan makna supervisi klinis adalah bantuan profesional yang diberikan kepada guru yang mengalami masalah dalam pembelajaran agar guru yang bersangkutan dapat mengatasi masalahnya dengan menempuh langkah yang sistematis

2. Sasaran supervisi klinis
Sasaran supervisi klinis adalah perbaikan pembelajaran dan bukan perbaikan kepribadian guru. Untuk ini supervisor diharapkan untuk mengajarkan berbagai ketrampilan kepada guru yang meliputi antara lain :
a) Ketrampilan mengamati memahami (mempersepsi) proses pembelajaran secara analitik
b) Ketrampilan menganalisis proses pembelajaran secara rasional berdasarkan bukti-bukti pengamatan yang jelas dan tepat
c) Ketrampilan dalam pembaharuan kurikulum, pelaksanaan serta pencobaannya
d) Ketrampilan dalam mengajar
Seperti telah disebutkan sasaran supervisi klinis adalah perbaikan cara mengajar dan bukan pengubahan kepribadian guru. Biasanya sasaran ini dioperasionalkan dalam sasaran-sasaran yang lebih kecil yaitu bagian ketrampilan mengajar yang bersifat spesifik yang mempunyai arti sangat penting dalam proses mengajar. Analisis konstruktif dilakukan untuk dapat secara tepat member penguatan (reinforcement) kepada pola tingkah laku yang berhasil dan mengarahkan serta tidak mencela atau menghukum pola-pola tingkah laku yang belum sukses.
Dalam supervisi klinis supervisor dan guru merupakan teman sejawat dalam memecahkan masalah-masalah pembelajaran di kelas.
Sasaran supervisi klinis sering kali dipusatka kepada : (a) kesadaran dan kepercayaan pribadi dalam melaksanakan tugas mengajar , (b) ketrampilan – ketrampilan dasar yang diperlukan dalam mengajar (generic skills), yang meliputi : (i) ketrampilan dalam menggunakan variasi dalam mengajar dan menggunakan stimulasi (ii) ketrampilan melibatkan siswa dalam proses belajar, (iii) ketrampilan dalam mengelola kelas dan disiplin kelas.

3. Karakteristik Supervisi Klinis
Merujuk pada pengertian yang telah dipaparkan, terdapat beberapa karakteristik supervisi klinis, yaitu:
a. Perbaikan dalam mengajar mengharuskan guru mempelajari keterampilan intelektual dan bertingkah laku berdasarkan keterampilan tersebut.
b. Fungsi utama supervisor adalah mengajar keterampilan-keterampilan kepada guru.
c. Fokus supervisi klinis adalah:
 Perbaikan cara mengajar dan bukan mengubah kepribadian guru.
 Dalam perencanaan pengajaran dan analisisnya merupakan pegangan supervisor dalam memperkirakan perilaku mengajar guru.
 Pada sejumlah keterampilan mengajar yang mempunyai arti penting bagi pendidikan dan berada dalam jangkauan guru.
 Pada analisis yang konstruktif dan memberi penguatan (reinforcement) pada pola-pola atau tingkah laku yang berhasil daripada “mencela” dan “menghukum” pola-pola tingkah laku yang belum sukses.
 Didasarkan pada bukti pengamatan dan bukan atas keputusan penilaian yang tidak didukung oleh bukti nyata.
d. Siklus dalam merencanakan, mengajar dan menganalisis merupakn suatu komunitas dan dibangun atas dasar pengalaman masa lampau.
e. Supervisi klinis merupakan suatu proses memberi dan menerima informasi yang dinamis dimana supervisor dan guru merupakan teman sejawat didalam mencari pengertian bersama mengenai proses pendidikan.
f. Proses supervisi klinis terutama berpusat pada interaksi verbal mengenai analisis jalannya pelajaran.
g. Setiap guru mempunyai kebebasan maupun tanggung jawab untuk mengemukakan pokok-pokok persoalan, menganalisis cara mengajarnya sendiri dan mengembangkan gaya mengajarnya.
h. Supervisor mempunyai kebebasan dan tanggung jawab untuk menganalisis dan mengevaluasi cara supervisi yang dilakukannya dengan cara yang sama seperti ketika ia menganalisis dan mengevaluasi cara mengajar guru.
Secara skematik, perbedaan antara supervisi kelas dengan supervisi klinis sebagai berikut (La Sulo, 1988 : 9):
No. Aspek Supervisi Kelas Supervisi Klinis
1. Prakarsa dan Tanggung Jawab Terutama oleh supervisor Diutamakan oleh guru
2. Hubungan Supervisor-Guru Realisasi guru-siswa/atasan-bawahan Realisasi kolegial yang sederajat dan interaktif
3. Sifat Supervisi Cenderung direktif atau otokratif Bantuan yang demokratis
4. Sasaran Supervisi Samar-samar atau sesuai keinginan supervisor Diajukan oleh guru sesuai kebutuhannya, dikaji bersama menjadi kontrak
5. Ruang Lingkup Umum dan luas Terbatas sesuai kontrak
6. Tujuan Supervisi Cenderung evaluatif Bimbingan yang analitik dan deskriptif
7. Peran Supervisor dalam Pertemuan Banyak memberi tahu dan mengarahkan Bertanya untuk analisis diri
8. Balikan Samar-samar atau atas kesimpulan supervisor Dengan analisis dan interpretasi bersama atas data observasi sesuai kontrak

4. Tujuan Supervisi Klinis
a. Tujuan umum
Secara umum supervisi klinis bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan keterampilan mengajar guru di kelas. Hubungan ini supervisi klinis merupakan kunci untuk meningkatkan kemampuan professional guru agar guru memiliki kemampuan untuk memperbaiki dirinya dalam melaksanakan proses pembelajaran. Selain itu terdapat tujuan umum lainnya, seperti :
o Menciptakan kesadaran guru tentang tanggung jawabnya terhadap pelaksanaan kualitas proses pembelajaran.
o Membantu guru untuk senantiasa memperbaiki dan meningkatkan kualitas proses pembelajaran.
o Membantu guru untuk mengidentifikasi dan menganalisis masalah yang muncul dalam proses pembelajaran
o Membantu guru untuk dapat menemukan cara pemecahan maslah yang ditemukan dalam proses pembelajaran
o Membantu guru untuk mengembangkan sikap positif dalam mengembangkan diri secara berkelanjutan.
b. Tujuan khusus
Secara khusus Supervisi klinis bertujuan untuk:
 Menyediakan suatu balikan yang objektif dalam kegiatan mengajar yang dilakuakan guru dengan berfokus terhadap:
Kesadaran dan kepercayaan diri dalam mengajar.
Keterampilan-keterampilan dasar mengajar yang diperlukan.
 Mendiagnosis dan membantu memecahkan masalah-masalah pembelajaran.
 Membantu guru mengembangkan keterampilan dalam menggunakan strategi-strategi pembelajaran.
 Membantu guru mengembangkan diri secara terus menerus dalam karir dan profesi mereka secara mandiri.

5. Ciri Khas Supervisi Klinis
Supervisi klinis memiliki ciri khas tersendiri yang membedakannya dengan teknik supervisi yang lain. Menurut Pidarta, ciri-ciri supervise klinis adalah sebagai berikut:
o Ada kesepakatan antara supervisor dengan guru yang akan disupervisi tentang aspek perilaku yang akan diperbaiki.
o Yang disupervisi atau diperbaiki adalah aspek-aspek perilaku guru dalam proses belajar mengajar yang spesifik, misalnya cara menertibkan kelas, teknik bertanya, teknik mengendalikan kelas dalam metode keterampilan proses, teknik menangani anak yang nakal dan sebagainya.
o Memperbaiki aspek perilaku diawali dengan pembuatan hipotesis bersama tentang bentuk perbaikan perilaku atau cara mengajar yang baik. Hipotesis ini bisa diambil dari teori-teori dalam proses belajar mengajar.
o Hipotesis di atas diuji dengan data hasil pengamatan supervisor tentang aspek perilaku guru yang akan diperbaiki ketika sedang mengajar. Hipotesis ini mungkin diterima, ditolak atau direvisi.
o Ada unsur pemberian penguatan terhadap perilaku guru terutama yang sudah berhasil diperbaiki. Agar muncul kesadaran betapa pentingnya bekerja dengan baik serta dilakukan secara berkelanjutan.
o Ada prinsip kerja sama antara supervisor dengan guru melalui dasar saling mempercayai dan sama-sama bertanggung jawab.
o Supervisi dilakukan secara kontinyu, artinya aspek-aspek perilaku itu satu persatu diperbaiki sampai guru itu bisa bekerja dengan baik, atau kebaikan bekerja guru itu dipelihara agar tidak menjadi jelek.

6. Prinsip-prinsip Supervisi Klinis
Dalam supervisi klinis terdapat sejumlah prinsip umum yang menjadi landasan praktik, antara lain:
a) Hubungan antara supervisor dengan guru adalah hubungan kolegial yang sederajat dan bersifat interaktif. Hubungan semacam ini lebih dikenal sebagai hubungan antara tenaga professional berpengalaman dengan yang kurang berpengalaman, sehingga terjalin dialog professional yang interaktif dalam suasana yang intim dan terbuka. Isi dialog bukan pengarahan atau instruksi dari supervisor/pengawas melainkan pemecahan masalah pembelajaran.
b) Diskusi antara supervisor dan guru bersifat demokratis, baik pada perencanaan pengajaran maupun pada pengkajian balikan dan tindak lanjut. Suasana demokratis itu dapat terwujud jika kedua pihak dengan bebas mengemukakan pendapat dan tidak mendominasi pembicaraan serta memiliki sifat keterbukaan untuk mengkaji semua pendapat yang dikemukakan didalam pertemuan tersebut dan pada akhirnya keputusan ditetapkan atas persetujuan bersama.
c) Sasaran supervisi terpusat pada kebutuhan dan aspirasi guru serta tetap berada didalam kawasan (ruang lingkup) tingkah laku gurudalam mengajar secara aktual. Dengan prinsip ini guru didorong untuk menganalisis kebutuhan dan aspirasinya didalam usaha mengembangkan dirinya.
d) Pengkajian balikan dilakukan berdasarkan data observasi yang cermat yang didasarkan atas kontrak serta dilaksanakan dengan segera. Dari hasil analisis balikan itulah ditetapkan rencana selanjutnya.
e) Mengutamakan prakarsa dan tanggung jawab guru baik pada tahap perencanaan, pengkajian balikan bahkan pengambilan keputusan dan tindak lanjut. Dengan mengalihkan sedini mungkin prakarsa dan tanggung jawab itu ke tangan guru diharapkan pada gilirannya kelak guru akan tetap mengambil prakarsa untuk mengembangkan dirinya.

Prinsip-prinsip supervisi klinis diatas membawa implikasi bagi kedua belah pihak (supervisor dan guru).
a. Implikasi bagi supervisor antara lain:
• Memiliki keyakinan akan kemampuan guru untuk mengembangkan dirinya serta memecahkan masalah yang dihadapinya.
• Memiliki sikap terbuka dan tanggap terhadap setiap pendapat guru.
• Mau dan mampu memperlakukan guru sebagai kolega yang memerlukan bantuannya.
b. Implikasi bagi guru antara lain:
• Perubahan sikap dari guru sebagai seseorang yang mampu mengambil prakarsa untuk menganalisis dan mengembangkan dirinya.
• Bersikap terbuka dan obyektif dalam menganalisis dirinya.

7. Prosedur Supervisi Klinis
Konsep supervisi klinis sebagai satu teknik pendekatan dalam mengembangkan pembelajaran guru merupakan suatu pola yang didasarkan pada asumsi dasar bahwa proses belajar guru untuk berkembang dalam jabatannya tidak dapat dipisahkan dari proses belajar yang dilakukan guru tersebut. Belajar bersifat individual, oleh karena itu, proses sosialisasi harus dilakukan dengan membantu guru secara tatap muka dan individual. Supervisi klinis sebagai suatu teknik memiliki langkah-langkah tertentu yang perlu mendapat perhatian untuk mengembangkan profesionalitas guru.
Menurut Cogan, ada delapan kegiatan dalam supervisi klinis yang dinamainya dengan siklus atau proses supervisi klinis. Delapan tahap tersebut mencakup
– tahap membangun dan memantapkan hubungan guru dengan supervisor,
– tahap perencanaan bersama guru,
– tahap perencanaan strategi observasi,
– tahap observasi pengajaran,
– tahap analisis proses belajar mengajar,
– tahap perencanaan strategi pertemuan,
– tahap pertemuan, dan
– tahap penjajakan rencana pertemuan berikutnya.
Menurut Mosher dan Purpel, ada tiga aktivitas dalam proses supervisi klinis, yaitu
tahap perencanaan,
tahap observasi, dan
tahap evaluasi dan analisis.
Sedangkan menurut Oliva, ada tiga aktivitas esensial dalam proses supervisi klinis, yaitu
 kontak dan komunikasi dengan guru untuk merencanakan observasi kelas,
 observasi kelas, dan
 tindak lanjut observasi kelas.
Dengan demikian, walaupun deskripsi pandangan para ahli di atas tentang langkah-langkah proses supervisi klinis berbeda, namun sebenarnya langkah-langkah itu bisa disarikan pada tiga tahap esensial yang berbentuk proses, yaitu proses pertemuan awal atau perencanaan, proses pelaksanakan pengamatan/observasi pembelajaran secara cermat, serta proses menganalisis hasil pengamatan dan memberikan umpan balik. Dua dari tiga tahap tersebut memerlukan pertemuan antara guru dan supervisor, yaitu pertemuan pendahuluan dan pertemuan lanjutan.
a. Tahap Pertemuan Pendahuluan
Dalam tahap ini supervisor dan guru bersama-sama membicarakan rencana tentang materi observasi yang akan dilaksanakan. Tahap ini memberikan kesempatan kepada guru dan supervisor untuk mengidentifikasi perhatian utama guru, kemudian menterjemahkannya kedalam bentuk tingkah laku yang dapat diamati. Pada tahap ini dibicarakan dan ditentukan pula jenis data mengajar yang akan diobservasi dan dicatat selama pelajaran berlangsung. Suatu komunikasi yang efektif dan terbuka diperlukan dalam tahap ini guna mengikat supervisor dan guru sebagai mitra didalam suasana kerja sama yang harmonis.
Pertemuan awal dimaksudkan untuk mengembangkan bersama antara supervisor dengan guru tentang kerangka kerja pengamatan kelas yang akan dilakukan. Hasil akhir pertemuan ini adalah kesepakatan (contract) kerja antara supervisor dengan guru. Tujuan ini bisa dicapai apabila dalam pertemuan awal ini tercipta kerja sama, hubungan kemanusiaan dan komunikasi yang baik antara supervisor dengan guru. Selanjutnya kualitas hubungan yang baik antara supervisor dengan guru memiliki pengaruh signifikan terhadap kesuksesan proses berikutnya dalam kegiatan model supervisi klinis.
Oleh sebab itu, para ahli banyak menyarankan agar pertemuan awal ini dilaksanakan secara rileks dan terbuka. Perlu sekali diciptakan kepercayaan guru terhadap supervisor, sebab kepercayaan guru akan mempengaruhi keefektifan pelaksanaan pertemuan awal ini. Kepercayaan berkenaan dengan keyakinan guru bahwa supervisor memperhatikan potensi, keinginan, kebutuhan, dan kemauan guru. Pertemuan awal tidak membutuhkan waktu yang lama, supervisor bisa menggunakan waktu 20 sampai 30 menit, kecuali jika guru mempunyai permasalahan khusus yang membutuhkan diskusi panjang. Pertemuan ini sebaiknya dilaksanakan di satu ruang yang netral, misalnya kafetaria, atau bisa juga di kelas. Pertemuan di ruang supervisor atau kepala sekolah kemungkinan akan membuat guru menjadi tidak bebas.
Secara teknis, ada beberapa kegiatan yang harus dilaksanakan dalam pertemuan awal ini, yaitu; menciptakan suasana yang akrab dan terbuka, mengidentifikasi aspek-aspek yang akan dikembangkan guru dalam kegiatan pembelajaran, menerjemahkan perhatian guru ke dalam tingkah laku yang bisa diamati, mengidentifikasi prosedur untuk memperbaiki pembelajaran guru, membantu guru memperbaiki tujuannya sendiri, menetapkan waktu pengamatan pembelajaran di kelas, menyeleksi instrument pengamatan pembelajaran di kelas, dan memperjelas konteks pembelajaran dengan melihat data yang akan direkam.
Secara teknis diperlukan lima langkah utama bagi terlaksananya pertemuan pendahuluan dengan baik, yaitu:
1) Menciptakan suasana intim antara supervisor dengan guru sebelum langkah-langkah selanjutnya dibicarakan.
2) Mengkaji ulang rencana pelajaran serta tujuan pelajaran.
3) Mengkaji ulang komponen keterampilan yang akan dilatihkan dan diamati.
4) Memilih atau mengembangkan suatu instrumen observasi yang akan dipakai untuk merekam tingkah laku guru yang akan menjadi perhatian utamanya.
5) Instrumen observasi yang dipilih atau yang dikembangkan dibicarakan bersama antara guru dan supervisor.
b. Tahap Pengamatan/Observasi Mengajar
Menurut Pidarta, proses melaksanakan pengamatan ada dua kegiatan yaitu guru mengajar dengan tekanan khusus pada aspek perilaku yang diperbaiki, dan supervisor mengobservasi. Proses melaksanakan pengamatan secara cermat, sistematis, dan obyektif merupakan proses kedua dalam proses supervisi klinis. Perhatian observasi ini ditujukan pada guru dalam bertindak dan kegiatan-kegiatan kelas sebagai hasil tindakan guru. Waktu dan tempat pengamatan pembelajaran ini sesuai dengan kesepakatan bersama antara supervisor dengan guru pada waktu mengadakan pertemuan awal.
Melaksanakan pengamatan pembelajaran secara cermat, mungkin akan terasa sangat kompleks dan sulit, dan tidak jarang adanya supervisor yang mengalami kesulitan. Dengan demikian, menuntut supervisor untuk menggunakan berbagai macam keterampilan. Ada dua aspek yang harus diputuskan dan dilaksanakan oleh supervisor sebelum dan sesudah melaksanakan pengamatan pembelajaran, yaitu menentukan aspek yang akan diamati dan cara mengamatinya. Mengenai aspek yang akan diamati harus sesuai dengan hasil diskusi bersama antara supervisor dengan guru pada waktu pertemuan awal.
Adapun mengenai bagaimana mengamati juga perlu mendapatkan perhatian. Maksud baik supervisor akan tidak berarti, apabila usaha-usaha kegiatan pengamatan tidak memperoleh data
yang seharusnya diperoleh. Tujuan utama pengumpulan data adalah untuk memperoleh informasi yang sebenarnya, yang akan digunakan untuk bertukar pikiran dengan guru setelah kegiatan pengamatan berakhir, sehingga guru bisa menganalisis secara cermat aktivitas-aktivitas yang telah dilakukannya di kelas. Di sinilah letak pentingnya teknik dan instrumen pengamatan yang
bisa digunakan untuk mengamati guru mengelola proses pembelajaran.
Berkaitan dengan teknik dan instrumen pengamatan ini, sebenarnya para peneliti telah banyak mengembangkan bermacam-macam teknik yang bisa digunakan dalam mengamati kegiatan
pembelajaran. Acheson dan Gall, mereview beberapa teknik dan menganjurkan supervisor untuk menggunakannya dalam proses supervisi klinis sebagai berikut
1. Selective Verbatim.
Pada teknik ini, supervisor membuat semacam rekaman tertulis. Tentunya tidak semua kejadian verbal harus direkam, tetapi sesuai dengan kesepakatan bersama antara supervisor dengan guru pada pertemuan awal. Hanya kejadian tertentu yang harus direkam secara selektif. Transkip ini bisa ditulis langsung berdasarkan pengamatan dan bisa juga menyalin dari apa yang direkam terlebih dahulu melalui tape recorder.
2. Rekaman observasional berupa a seating chart.
Supervisor mendokumentasikan perilaku murid, bagaimana ia berinteraksi dengan seorang guru selama pembelajaran berlangsung. Seluruh kompleksitas perilaku dan interaksi dideskripsikan secara bergambar. Melalui penggunaan a seating chart ini, supervisor bisa mendokumentasikan secara grafis interaksi guru dengan murid, murid dengan murid, sehingga dengan mudah diketahui apakah guru hanya berinteraksi dengan semua murid atau hanya dengan sebagian murid yang terlibat dalam proses pembelajaran.
3. Wide-lens techniques.
Supervisor membuat catatan yang lengkap mengenai kejadian-kejadian di kelas dan cerita yang panjang lebar. Teknik ini bisa juga disebut dengan anecdotal record.
4. Checklists and time line coding.
Supervisor mengamati dan mengumpulkan data perilaku pembelajaran yang sebelumnya telah diklasifikasi atau dikatagorisasikan. Contoh yang paling baik dalam kegiatan pengamatan dengan model supervisi klinis adalah skala analisis interaksi. Flanders berpendapat bahwa dalam analisis ini, aktivitas kelas diklasifikasikan menjadi tiga kategori besar, yaitu; pembicaraan guru, pembicaraan murid, dan tidak ada pembicaraan (silence).
Pada tahap ini guru melatih tingkah laku mengajar berdasarkan komponen keterampilan yang telah disepakati dalam pertemuan pendahuluan. Di pihak lain supervisor mengamati dan mencatat atau merekam tingkah laku guru ketika mengajar berdasarkan komponen keterampilan yang diminta oleh guru untuk direkam. Supervisor dapat juga mengadakan observasi dan mencatat tingkah laku siswa di kelas serta interaksi antara guru dan siswa.
Kunjungan dan observasi yang dilaksanakan supervisor bermanfaat untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran sebenarnya. Manfaat observasi tersebut antara lain dapat:
 Menemukan kelebihan atau kekurangan guru dalam melaksanakan pembelajaran guna pengembangan dan pembinaan lebih lanjut;
 Mengidentifikasi kendala yang dihadapi dalam melaksanakan suatu gagasan pembaharuan pengajaran;
 Secara langsung mengetahui keperluan dan kebutuhan masing-masing guru dalam melaksanakan proses belajar-mengajar;
 Memperoleh data atau informasi yang dapat digunakan dalam penyusunan program pembinaan profesinal secara terinci;
 Menumbuhkan kepercayaan diri pada guru untuk berbuat lebih baik; serta
 Mengetahui secara lengkap dan komprehensif tentang hal-hal pendukung kelancaran proses belajar-mengajar.
Dalam proses pelaksanaannya, supervisor seharusnya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
 Menciptakan situasi yang wajar, mengambil tempat didalam kelas yang tidak menjadi pusat perhatian anak-anak, tidak mencampuri guru yang sedang mengajar, sikap waktu mencatat tidak akan menimbulkan prasangka dari pihak guru.
 Harus dapat membedakan mana yang penting untuk dicatat dan mana yang kurang penting.
 Bukan melihat kelemahan, melainkan melihat bagaimana memperbaikinya.
 Harus diperhatikan kegiatan atau reaksi murid-murid tentang proses belajar.

c. Tahap Pertemuan Lanjutan
Sebelum pertemuan lanjutan dilaksanakan, supervisor mengadakan analisis pendahuluan tentang rekaman observasi yang dibuat sebagai bahan dalam pembicaraan tahap ini. Dalam hal ini supervisor harus mengusahakan data yang obyektif, menganalisis dan menginterpretsikan secara koperatif dengan guru tentang apa yang telah berlangsung dalam mengajar.
Setelah melakukan kunjuangan dan observasi kelas, maka supervisor seharusnya dapat menganalisis data-data yang diperolehnya tersebut untuk diolah dan dikaji yang dapat dijadikan pedoman dan rujukan pembinaan dan peningkatan guru-guru selanjutnya. Masalah-masalah professional yang berhasil diidentifikasi selanjutnya perlu dikaji lebih lanjut dengan maksud untuk memahami esensi masalah yang sesungguhnya dan faktor-faktor penyebabnya, selanjutnya masalah-masalah tersebut diklasifikasi dengan maksud untuk menemukan masalah yang mana yang dihadapi oleh kebanyakan guru di sekolah atau di wilayah itu. Ketepatan dan kehati-hatian supervisor dalam menimbang suatu masalah akan berpengaruh terhadap keberhasilan proses pembinaan professional guru yang bersangkutan selanjutnya.
Dalam proses pengkajian terhadap berbagai cara pemecahan yang mungkin dilakukan, setiap alternatif pemecahan masalah dipelajari kemungkinan keterlaksanaannya dengan cara mempertimbangkan factor-faktor peluang yang dimiliki, seperti fasilitas dan kendala-kendala yang mungkin dihadapi. Alternatif pemecahan masalah yang terbaik adalah alternatif yang paling mungkin dilakukan, dalam arti lebih banyak faktor-faktor pendukungnya dibandingkan dengan kendala yang dihadapi. Disamping itu, alternatif pemecahan yang terbaik memiliki nilai tambah yang paling besar bagi peningkatan mutu proses dan hasil belajar siswa.
Langkah-langkah utama pada tahap pertemuan lanjutan adalah:
1. Menanyakan perasaan guru secara umum atau kesan umum guru ketika ia mengajar serta memberi penguatan.
2. Mengkaji ulang tujuan pelajaran.
3. Mengkaji ulang target keterampilan serta perhatian utama guru.
4. Menanyakan perasaan guru tentang jalannya pelajaran berdasarkan target dan perhatian utamanya.
5. Menunjukan serta mengkaji bersama guru hasil observasi (Rekaman data).
6. Menanyakan perasaan guru setelah melihat rekaman data tersebut.
7. Menyimpulkan hasil dengan melihat apa yang sebenarnya merupakan keinginan atau target guru dan apa yang sebenarnya terjadi atau tercapai.
8. Menentukan bersama-sama dan mendorong guru untuk merencanakan hal-hal yang perlu dilatih atau diperhatikan pada kesempatan berikutnya.
Pertemuan balikan ini dilakukan segera setelah melaksanakan pengamatan pembelajaran, dengan terlebih dahulu dilakukan analisis terhadap hasil pengamatan. Tujuan utama menganalisis hasil pengamatan dan memberikan umpan balik adalah menindaklanjuti apa yang dilihat oleh supervisor sebagai pengamat terhadap proses pembelajaran. Pembicaraan dalam menganalisis hasil pengamatan dan memberikan umpan balik ini adalah ditekankan pada identifikasi serta analisis persamaan dan perbedaan antara perilaku guru dan peserta didik yang direncanakan dengan perilaku aktual guru dan peserta didik, serta membuat keputusan tentang apa dan bagaimana yang seharusnya dilakukan berhubungan dengan perbedaan yang ada.
Proses ini merupakan proses yang penting untuk mengembangkan perilaku guru dengan cara memberikan balikan tertentu. Balikan ini harus deskriptif, spesifik, konkrit, bersifat memotivasi, aktual, dan akurat, sehingga benar-benar bermanfaat bagi guru. Paling tidak ada lima manfaat pertemuan balikan bagi guru, yaitu:
(1) Guru bisa diberi penguatan dan kepuasan sehingga bisa termotivasi dalam kerjanya,
(2) isu-isu dalam pengajaran bias didefinisikan bersama supervisor dan guru dengan tepat,
(3) supervisor bila mungkin dan perlu bisa berupaya mengintervensi secara langsung guru untuk memberikan bantuan didaktis dan bimbingan,
(4) guru bisa dilatih dengan teknik ini untuk melakukan supervisi terhadap dirinya sendiri, dan
(5) guru bisa diberi pengetahuan tambahan untuk meningkatkan tingkat analisis profesional diri pada masa yang akan datang.
Sebelum mengadakan pertemuan balikan ini, supervisor terlebih dahulu diharuskan menganalisis hasil pengamatan dan merencanakan apa yang akan dibicarakan dengan guru. Begitu pula guru diharapkan menilai dirinya sendiri. Dalam pertemuan balikan ini sangat diperlukan adanya keterbukaan antara supervisor dengan guru.
Maka dari itu, supervisor sebaiknya menanamkan kepercayaan pada diri guru bahwa pertemuan balikan ini bukan untuk menyalahkan guru, melainkan untuk memberikan masukan balikan. Pertama kali yang harus dilakukan oleh supervisor dalam setiap pertemuan balikan adalah memberikan penguatan (reinforcment) terhadap guru. Kemudian dilanjutkan dengan analisis bersama terhadap setiap aspek pembelajaran yang menjadi perhatian dalam kegiatan supervisi klinis. Ada beberapa langkah penting yang harus dilakukan selama pertemuan balikan ini, yaitu:
• Menanyakan perasaan guru secara umum atau kesannya terhadap pengajaran yang dilakukan, kemudian supervisor berusaha memberikan penguatan (reinforcement).
• Menganalisis pencapaian tujuan pengajaran. Supervisor bersama guru mengidentifikasi perbedaan antara tujuan pengajaran yang direncanakan dengan tujuan pengajaran yang dicapai.
• Menganalisis target keterampilan dan perhatian utama guru. Supervisor bersama guru mengidentifikasi target keterampilan dan perhatian utama yang telah dicapai dan yang belum dicapai.
• Supervisor menanyakan perasaannya setelah menganalisis target keterampilan dan perhatian utamanya.
• Menyimpulkan hasil dari apa yang telah diperolehnya selama proses supervisi klinis. Supervisor memberikan kesempatan kepada guru untuk menyimpulkan target keterampilan dan perhatian utamanya yang telah dicapai selama proses supervise klinis.
• Mendorong guru untuk merencanakan latihan-latihan sekaligus menetapkan rencana berikutnya
Dalam pelaksanaan supervisi klinis sangat diperlukan iklim kerja yang baik dalam pertemuan awal atau perencanaan, melaksanakan pengamatan pembelajaran secara cermat, maupun dalam menganalisis hasil pengamatan dan memberikan umpan balik. Faktor yang sangat menentukan keberhasilan supervisi klinis adalah kepercayaan pada guru bahwa tugas supervisor semata-mata untuk membantu mengembangkan pembelajaran guru. Upaya memperoleh kepercayaan guru ini memerlukan satu iklim kerja yang kolegial.
Keseluruhan tahap didalam proses supervisi klinis dapat digambarkan dalam bagan siklus supervisi sebagai berikut:
TAHAP AWAL PERTEMUAN PENDAHULUAN
Pembentukan kerangka kerja:
– Suasana intim
– Kaji ulang
– Instrumen observasi (kontrak)
Perencanaan/Persiapanguru
TAHAP OBSERVASI MENGAJAR
Pelaksanaan Mengajar:
– Pencatatan tingkah laku guru oelh supervisor
TAHAP PERTEMUAN AKHIR
Diskusi Balikan:
– Interpretasi bersama
– Analisis data
– Refleksi
Analisis Pendahuluan teknis rekaman observasi
Revisi oleh guru(bila perlu)

Tahun 1969 Robert Goldhammer mengusulkan pelaksanaan supervisi klinis dalam lima tahap, yaitu:
a) Pertemuan pra-observasi antara pendidik dan pengawas untuk menyepakati komponen-komponen kegiatan yang akan menjadi materi analisis;
b) observasi kelas;
c) catatan analisis supervisor untuk bahan kajian dari hasil observasi;
d) pertemuan pendidik dengan supervisor pasca observasi; dan
e) pertemuan para pengawas untuk membahas hasil pertemuan akhir dengan para pendidik.

Gambar 1. Pelaksanaan Supervisi Klinis

8. 5 langkah dalam melaksanakan supervise klinis menurut buku “PROFESI KEPENDIDIKAN FKIP UNS “
Terdapat lima langkah dalam melaksanakan supervisi klinis, yaitu : (a) pembicaraan pra-observasi, (b) melaksanakan observasi (c) melakukan analisis dan menentuka strategi (d) melakukan pembicaraan tentang hasil supervisi, serta (e) melakukan analisis setelah pembicaraan.
(a) Tahap Pembicaraan Pra-observasi
Tahap ini disebut pula dengan pembicaraan pendahuluan. Dalam tahap ini supervisor dan guru bersama-sama membicarakan rencana ketrampilan yang akan diobservasi atau dicatat. Tahap ini memberikan kesempatan kepada guru dan supervisor untuk mengidentifikasi ketrampilan mana yang memerlukan perbaikan. Ketrampilan yang dipilih kemudian dioperasionalkan dalam bentuk rumusan tingkah laku yang dapat diamati. Dalam pertemuan ini pula dibicarakan dan ditentukan jenis data yang akan dicatat selama perjalanan berlangsung. Pelaksanaan tahap ini memerlukan komunikasi terbuka, sehingga tercipta ikatan kolegial antara supervisor dan guru dalam suasana kerja sama yang harmonis. Secara teknis diperlukan lima langkah dalam pelaksanaan pertemuan pendahuluan. Lima langkah itu adalah :
(1) Menciptakan suasana akrab antara supervisor dengan guru
(2) Melakukan titik ulang rencana pelajaran serta tujuan pelajaran
(3) Melakukan titik ulang komponen ketrampilan yang akan dilatihkan dan amati
(4) Memilih atau mengembangkan instrument observasi
(5) Membicarakan bersama untuk mendapatkan kesepakatan tentang instrument observasi yang dipilih atau yamg akan dikembagkan.
(b) Tahap Observasi
Pada tahap ini guru melakukan latihan dalam tingkah laku mengajar yang dipilih dan disepakati dalam pertemuan pendahuluan. Sementara guru berlatih, supervisor mengamati dan mencatat atau merekamnya. Supervisor dapat pula mengadakan observasi dan mencatat tingkah laku siswa di kelas serta interaksi antara guru dan siswa.
(c) Tahap Analisis dan Penetapan Strategi
Supervisor mengadakan analisis tentang hasil rekaman observasi. Tujuan tahap ini adalah mengartikan data yang diperoleh dan merencanakan manajemen pertemuan yang akan diadakan dengan guru. Strategi manajemen itu meliputi isu apa yang akan mendapatkan perhatian, data mana yang dipakai dalam pembicaraan, apa tujuan pembicaraan, dari mana mulainya, dan siapa yang harus melakukannya. Dalam melakukan analisis, supervisor harus menggunakan kategorisasi perilaku mengajar, dan melihat data yang dikumpulkan itu atas kategori yang ditetapkan itu.
(d) Pembicaraan Tentang Hasil
Tujuan pertemuan atau pembicaran ini adalah untuk memberikan balikan kepada guru dalam memperbaiki perilaku mengajarnya, memberikan imbalan dan perasaan puas, mendefinisikan isu dalam mengajar dan teknik mengembangkan diri sendiri. Langkah utama dalam tahap ini adalah (Bolla, 1985) :
(1) Menanyakan perasaan guru secara umum atau kesan guru ketika ia mengajar serta member penguatan
(2) Melakukan titik ulang tujuan pelajaran
(3) Melakukan titik ulang target ketrampilan serta perhatian utama guru
(4) Menanyakan perasan guru tentang jalannya pembelajaran berdasarkan target dan perhatian utamanya.
(5) Menunjukkan data hasil rekaman dan member kesempatan kepada guru menafsirkan data tersebut
(6) Menginterprestasikan data rekaman secara bersama
(7) Menanyakan persaan guru setelah melihat apa rekaman data tersebut
(8) Menyimpulkan hasil dengan melihat apa yang sebenarnya merupakan keinginan atau target guru dan apa yang sebenarnya telah terjadi atau tercapai.
(9) Menentukan bersama-sama dan mendorong guru untuk merencanakan hal-hal yang perlu dilatih atau diperhatikan pada kesempatan berikutnya.
(e) Analisis Sesudah Pembicaran (Post-Conference)
Supervisi merupakan pekerjaan profesioanl. Oleh karena itu pengalaman supervisor di dalam melaksanakan supervisi harus dimanfaatkan untuk pertumbuhan jabatannya sendiri. Dalam analisis sesudah pembicaraan ini, supervisor harus menilik ulang tentang apa yang telah dilakukan dalam menetapkan kriteria perilaku mengajar yang ditetapkan dalam era-observasi dan kriteria yang dipakai supervisor dalam melakukan observasi. Di samping itu perlu dibicarakan hasil evaluasi diri sendiri tentang keberhasilan supervisor dalam membantu guru. Kegiatan ini akan mudah dilakukan apabila supervisor mempunyai catatan lengkap tentang proses kegiatan yang dilakukan, kalau mungkin kegiatan direkam dengan video tape.

9. Pendekatan Supervisi Klinis
Pendekatan supervise klinis terdiri dari :
 Direktif: Tanggung jawab lebih banyak pada supervisor
 Kolaboratif: Tanggung Jawab terbagi relatif sama antara supervisor dan guru
 Non-direktif: Tanggung jawab lebih banyak pada guru

10. Orientasi Perilaku Supervsisi Klinis
Dalam proses supervisi klinis, perilaku supervisor menentukan keberhasilannya dalam membantu mengembangkan guru. Menurut Glickman, perilaku supervisor dalam supervisi klinis meliputi: mendengarkan, mengklarifikasi, mendorong, mempresentasikan, memecahkan masalah, bernegosiasi, mendemonstrasikan, memastikan, standardisasi, dan menguatkan. Sedangkan orientasi perilaku supervisi klinis terdiri atas:
a. Orientasi Langsung
Supervisi klinis berorientasi langsung akan mencakup perilaku-perilaku pokok, berupa klarifikasi, presentasi, demonstrasi, penegasan, standardisasi, dan penguatan. Hasil akhir dari perilaku supervisi ini adalah tugas bagi guru yang harus dikerjakan dalam satu periode waktu tertentu. Asumsi yang mendasari orientasi ini sama halnya dengan asumsi dasar psikologi perilaku, bahwa mengajar itu pada dasarnya merupakan penkondisian individu melalui lingkungannya.
Apabila supervisor akan menggunakan orientasi ini, maka bentuk aplikasinya dalam proses supervisi klinis adalah:
– pertama,
pada saat pertemuan awal, supervisor mengklarifikasi masalah-masalah yang dihadapi oleh guru dan barangkali sambil bertanya kepada guru yang bersangkutan untuk melakukan konfirmasi dan revisi seperlunya. Pada saat itu pula supervisor mempresentasikan ide-idenya mengenai informasi atau data apa saja yang dikumpulkan.
– Kedua,
melaksanakan pengamatan kelas secara cermat. Peran supervisor adalah sebagai pengamat untuk mengetahui kondisi sebenarnya dan bagaimana seharusnya dipecahkan.
– Ketiga,
pada pertemuan balikan, setelah data dikumpulkan dan dianalisis, supervisor menegaskan dan mendemonstrasikan tindakan-tindakan pembelajaran yang mungkin bisa dilakukan oleh guru. Pada saat itu pula, supervisor menetapkan standard pencapaian serta penguatan baik dalam bentuk insentif material maupun sosial.
b. Orientasi Kolaboratif
Supervisi klinis yang berorientasi kolaboratif akan mencakup perilaku pokok, berupa mendengarkan, mempresentasikan, pemecahan masalah, dan negosiasi. Hasil akhir dari perilaku supervisi ini adalah kontrak kerja antara supervisor dengan guru. Asumsi yang mendasari orientasi supervisi ini adalah sama halnya dengan asumsi yang mendasari psikologi kognitif, bahwa belajar itu merupakan hasil perpaduan antara perilaku individu dengan lingkungan luarnya.
Apabila supervisor akan menggunakan orientasi kolaboratif ini, maka bentuk aplikasinya dalam proses supervisi klinis meliputi kegiatan:
(1) Pertemuan awal atau perencanaan
Pada pertemuan ini, supervisor mendengarkan apa yang dikeluhkan oleh guru, sehingga ia benar-benar memahami masalah-masalah yang dihadapi guru. Setelah itu, supervisor bersama guru mengadakan negosiasi untuk menetapkan kapan supervisor melakukan observasi kelas.
(2) Melaksanakan pengamatan
Setelah pertemuan awal, dilanjutkan dengan observasi kelas.
Pada waktu observasi ini, supervisor dengan menggunakan instrumen tertentu mengamati pembelajaran guru dan aktivitas peserta didik. Kemudian hasil pengamatan tersebut dianalisis, dengan menyiapkan beberapa pertanyaaan untuk mengarahkan pemahaman guru terhadap masalah yang dihadapinya.
(3) Menganalisis hasil pengamatan dan memberikan umpan balik
Pada tahap ini supervisor mengajukan beberapa pertanyaan yang telah dibuat sebelumnya. Guru menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh supervisor. Kemudian supervisor bersama guru mulai memecahkan masalah. Dalam pemecahan masalah ini, sebaiknya antara supervisor dengan guru berpisah, sehingga masing-masing pihak bisa mengidentifikasi alternative pemecahan masalah menurut pikiran masing-masing pihak. Kemudian pada hari berikutnya, kedua belah pihak berkumpul kembali untuk saling membahas alternatif pemecahan yang telah dibuatnya. Artinya, supervisor bersama guru menentukan alternatif pemecahan terbaik dan membagi tugas untuk mengimplementasikannya.
c. Orientasi Tidak Langsung
Asumsi yang mendasari orientasi ini adalah sama halnya dengan asumsi yang mendasari psikologi humanistik yang menyatakan bahwa belajar merupakan hasil keinginan individu untuk menemukan rasionalitas dan dasar-dasar dalam dunia ini. Premis mayor yang mendasari orientasi ini adalah bahwa guru mampu menganalisis dan memecahkan masalahnya sendiri dalam proses pembelajaran. Peran supervisor hanya sebagai seorang fasilitator dengan sedikit memberikan pengarahan kepada guru.
Perilaku supervisi yang berorientasi tidak langsung akan mencakup berupa kegiatan mendengarkan, mengklarifikasi, mendorong, mempresentasikan, dan bernegosiasi. Hasil akhir dari supervisi ini adalah rencana guru sendiri (teacher self-plan). Apabila supervisor akan menggunakan orientasi tidak langsung dalam melaksanakan supervisi, maka bentuk aplikasinya dalam proses supervisi klinis meliputi kegiatan:
1. Pertemuan awal atau perencanaan
Dalam pertemuan awal ini supervisor mendengarkan keluhan-keluhan guru. Kemudian supervisor bertanya kepada guru perlu tidaknya diadakan pengamatan kelas pada saat guru mengajar. Apabila tidak diperlukan oleh guru berarti tidak ada masalah serius yang dihadapi guru. Sebaliknya apabila guru meminta supervisor mengamati kelas, maka dilanjutkan dengan mengamati kelas, ketika proses pembelajaran berlangsung.
2. Melaksanakan pengamatan
Supervisor memasuki kelas untuk mengamati pengajaran guru. Supervisor mengamati bagaimana guru mengajar, bagaimana peserta didik belajar, mendengarkan penjelasan, berdiskusi, dan sebagainya. Setelah itu, semua hasil pengamatan dianalisis dan diinterpretasikan. Apabila dianggap perlu, supervisor menyusun pertanyaan untuk mengklarifikasi hasil-hasil pengamatannya untuk membantu mengarahkan guru memahami kekurangan dan masalahnya sendiri.
3. Menganalisis hasil pengamatan dan memberikan umpan balik
Setelah selesai menganalisis dan menginterpretasikan, supervisor bersama guru mengadakan pertemuan akhir. Pada saat inilah diiedntifikasi kembali tindakan-tindakan yang dilakukan guru di kelas, serta membantu guru memmahmi kekurangannya sendiri. Kemudian supervisor bertanya kepada guru tentang banyak hal menurut guru bias dilakukan untuk mmecahkan beberapa kekurangannya.

11. Pelaporan Supervisi Klinis
Laporan Hasil Pelaksanaan Supervisi ditujukan kepada pimpinan dan kepada orang yang disupervisi. Kepada atasan atau pimpinan, laporan hasil supervisi dimaksudkan untuk memberikan laporan mengenai temuan-temuan yang diperoleh dari kegiatan supervisi dan selanjutnya dijadikan bahan untuk melakukan pembinaan kompetensi profesional bagi orang yang disupervisi.
Laporan untuk pihak yang disupervisi dimaksudkan sebagai balikan dalam upaya menyadarkan posisi kinerja dan meningkatkan kompetensi profesionalnya. Oleh karena itu, bahasa yang digunakan dalam laporan supervisi untuk pihak yang disupervisi perlu memperhatikan aspek-aspek psikologis, fisiologis, latar belakang pendidikan, masa kerja dan aspek lainnya yang berhubungan dengan harga dari pihak yang disupervisi.

PEMBINAAN GURU
Banyak guru yang mengalami masalah/kesulitan dalam melaksanakan pembelajaran pada mata pelajaran yang diampunya. Kesulitan tersebut dapat disebabkan oleh karakteristik mata pelajaran sehingga sulit dipahami guru atau kesulitan dalam aspek-aspek teknis metodologis sehingga bahan ajar kurang dipahami peserta didik. Supervisi klinis yang dilakukan pengawas sekolah kepada guru merupakan salah satu upaya membantu guru untuk mengatasi masalah yang dialaminya dalam rangka memperbaiki kualitas pembelajaran.
Ada tiga tahap kegiatan yang dilakukan dalam supervisi klinis yakni tahap pertemuan awal, tahap pengamatan guru mengajar, serta tahap analisis hasil pengamatan dan tindak-lanjutnya. Supervisi klinis dapat diartikan sebagai bantuan profesional kesejawatan yang diberikan kepada guru yang mengalami masalah dalam pembelajaran agar guru yang bersangkutan dapat mengatasi masalahnya dengan menempuh langkah yang sistematis mencakup tahap perencanaan, tahap pengamatan perilaku guru mengajar, serta tahap ana¬lisis perilaku dan tindak lanjut.
Dalam supervisi klinis, supervisor dan guru merupakan teman sejawat dalam memecahkan masalah pengajaran di kelas. Sasaran supervisi klinis seringkali dipusatkan pada :
a. kesadaran dan kepercayaan diri dalam melaksanakan tugas menhgajar,
b. keterapilan – keterampilan dasar yang diperlukan dalam mengajar (generic skill) yang meliputi :
(1) keterampilan dalam menggunakan variasi dalam menagajar dan menggunakan stimulasi,
(2) keterampilan melibatkan siswa dalam proses belajar serta ,
(3) keterampilan dalam mengelola kelas dan disiplin kelas.
Terdapat lima langkah dalam melaksanakan supervisi klinis yaitu :
a) pembicaraan pra- observasi
b) melaksanakan observasi
c) melakukan analisis dan penentu strategi
d) melakukan pembicaraan tentang hasil supervisi serta
e) melakukan analisis setelah pembicaraani
Implementasi supervisi dilapangan banyak terjadi keragaman dalam memahami dan melaksanakan supervisi. Hal ini terjadi karena diakibatkan oleh perbedaan latar belakang pendidikan dan tingkat jabatan, perbedaan dalam orientasi profesional, perbedaan dalam tujuan dan keterampilan menganalisa, perbedaan dalam kesangupan jasmani dan vitalitas hidup, perbedaan dalam kualifikasi kemampuan untuk memimpin dan berdiri untuk dipimpin, perbedaan dalam kondisi psikologis, perbedaan dalam pengalaman belajar mengajar, serta perbedaan dalam kesanggupan dan sikap profesional. Perbedaan tersebut seharusnya tidak menjadi penghambat dalam pencapaian tujuan supervisi profesional.
Sikap supervisor yang memaksakan kehendak, menekan guru, yang melumpuhkan kreatifitas anggota staf perlu diubah. Sikap korektif yang mencari-cari kesalahan harus diganti dengan sikap kreatif dimana setiap orang mau dan mampu menumbuh kembangkan kreatifitasnya untuk perbaikan pengajaran. Penilaian pelaksanaan supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah merupakan salah satu cara untuk mengetahui kelemahan pelaksanaan pembinaan maupun faktor yang memberinya harapan dalam kemudahan pelaksanan supervisi.
Implementasi dilapangan banyak ditemukan masalah-masalah yang masih menghambat terlaksananya supervisi, diantaranya (Tim Dosen Administrasi Pendidikan UPI, 2010):
1. Sistem kerja sentralisasi yang masih melekat. Guru perlu pembiasaan budaya kerja baru sesuai semangat otonomi pendidikan dan otonomi daerah yang menuntut kreatifitas dan kerja keras. Kebiasaan lama dalam bekerja harus sudah ditinggalkan
2. Persaingan mutu sekolah semakin terasa berat. Pembinaan pembelajaran harus dilakukan dengan serius dan sungguh-sungguh.
3. Masih adanya mental anak emas untuk guru yang dinilai dan baik
4. Tuntutan akuntabilitas penyelenggaraan sekolah dari masyarakat yang semakin tinggi, menyebabkan kesibukan dalam menangani urusan administrasi, terutama menghadapi pemeriksaan pembukuan, LSM dan Pers.
5. Transparansi manajemen sekolah yang sering terjadi benturan kebijakan dengan komite sekolah, menyebabkan kesulitan bergerak untuk kelancaran tugas-tugas rutin.
6. Transparansi pengelolaan keuangan sekolah yag pembukuan dan bukti-buktinya menyita banyak waktu.
Usaha untuk kelancaran dan keberhasilan pemecahan permasalahan yang ditempuh dalam kegiatan supervisi oleh kepala sekolah adalah sebagai berikut (Tim Dosen Administrasi Pendidikan UPI, 2010):
1. Penyamaan visi dan misi
2. Pengelolaan supervisi yang baik
3. Perlibatan guru secara individual dalam pelaksanaan supervisi
4. Pelibatan organisasi guru, seperti PKG, KKG, dan KKKS untuk mengukur keberhasilan guru dalam pembelajaran dan sebagai tempat bertukar pendapat dan menggali ide-ide kreatif.
Supervisor yang berkualitas adalah supervisor yang dapat memberikan bantuan kepada guru ke arah usaha pemecahan masalah dan perbaikan kualitas proses pembelajaran secara sistematis, kontinyu, dan komprehensif
Indikator keberhasilan pelaksanaan supervisi klinis adalah:
(a) Meningkatnya kemampuan guru dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi proses pembelajaran,
(b) Kualitas pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru menjadi lebih baik sehingga diharapkan akan berpengaruh terhadap kualitas hasil belajar yang dicapai siswa, dan
(c) Terjalinnya hubungan kolegial antara pengawas sekolah dengan guru dalam memecahkan masalah pembela¬jaran serta tugas-tugas profesinya

TINDAK LANJUT
Dalam melaksanakan supervisi kegiatan belajar mengajar diperlukan instrumen berupa lembar pengamatan dan suplemen observasi (keterampilan mengajar, karakteristik mata pelajaran, pendekatan klinis, dan sebagainya). Dalam pelaksanaannya kegiatan tindak lanjut supervisi akademik sasaran utamanya adalah kegiatan belajar mengajar. Hasil analisis, catatan supervisor, dapat dimanfaatkan untuk perkembangan keterampilan mengajar guru atau meningkatkan profesionalisme guru dan karyawan, setidak-tidaknya dapat mengurangi kendala-kendala yang muncul atau yang mungkin akan muncul.
Umpan balik akan memberi pertolongan bagi supervisor dalam melaksanakan tindak lanjut supervisi. Dari umpan balik itu pula dapat tercipta suasana komunikasi yang tidak menimbulkan ketegangan, serta mendorong guru memperbaiki penampilan dan kinerjanya.
Cara-cara melaksanakan tindak lanjut hasil supervisi akademik sebagai berikut.
1. Me-review rangkuman hasil penilaian.
2. Apabila ternyata tujuan supervisi akademik dan standar-standar pembelajaran belum tercapai, maka sebaiknya dilakukan penilaian ulang terhadap pengetahuan, keterampilan dan sikap guru yang menjadi tujuan pembinaan.
3. Apabila ternyata memang tujuannya belum tercapai maka mulailah merancang kembali program supervisi akademik guru untuk masa berikutnya.
4. Membuat rencana aksi supervisi akademik berikutnya.
5. Mengimplementasikan rencana aksi tersebut pada masa berikutnya.
Ada lima langkah pembinaan kemampuan guru melalui supervisi akademik, yaitu:
– menciptakan hubungan-hubungan yang harmonis,
– analisis kebutuhan,
– mengembangkan strategi dan media,
– menilai, dan revisi

PENUTUP
Supervisi klinis adalah supervisi yang difokuskan pada perbaikan pembelajaran melalui siklus yang sistematis mulai dari tahap perencanaan, pengamatan dan analisis yang intesif terhadap penampilan pembelajarannya dengan tujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran.
Supervisi klinis akan terjadi jika hubungan kolegial antara pengawas dan guru telah terjalin dengan baik. Tanpa prasyarat tersebut guru akan segan untuk meminta pengawas untuk melakukan supervise klinis terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi guru dalam pembelajaran.
Selain itu, keberhasilan supervise klinis juga akan sangat tergantung kepada sejauhmana pengawas memberikan bimbingan sesuai kemampuan professional yang dimilikinya dan sejauhmana guru secara terbuka melaksanakan bimbingan yang telah diberikan oleh pengawas.
Prinsip-prinsip supervisi klinis pada intinya adalah bantuan kepada guru dalam pembelajaran, bukan perintah atau instruksi yang harus dilaksanakan melainkan kesadaran kedua belah pihak (guru dan kepala, atau guru dan pengawas, atau kepala madrasah dan pengawas) akan pentingnya memperbaiki mutu pembelajarannya. Prinsip lain adalah membina guru dengan penuh keikhlasan bukan keterpaksanaan, bertanggungjawab terhadap peningkatan kualitas guru, memiliki program yang jelas dalam meningkatkan mutu pendidikan. Hubungan antara pengawas sebagai supervisor dengan guru sifatnya hubungan kolegial dalam suasana yang intim penuh keterbukaan, demokratis, mengedepankan tugas dan tanggung jawab dalam meningkatkan mutu pembelajaran, supervisor harus lebih banyak mendengar daripada berbicara dan fokus pada kebutuhan dan aspirasi guru pada perilaku mengajar aktual dalam mata pelajaran yang diampunya.
Bertolak dari cakupan permasalahan dan pembahasan yang diberikan untuk permasalahan, maka dapat disimpulkan bahwa peningkatan mutu pendidikan dapat dilakukan dengan meningkatkan dan mengembangkan kegiatan supervisi pengajaran dengan pendekatan klinikal. Pelaksanaan supervisi secara klinik yang baik oleh supervisor sesuai dengan siklus atau langkah-langkah yang ada, serta didukung pengetahuan dan pemahaman yang baik tentang ciri-ciri dan prinsip-prinsip supervisi klinik akan dapat meningkatkan mutu atau profesionalitas pembelajaran guru.
Keberhasilan supervisi klinik sangat dipengaruhi pula oleh adanya iklim kerja yang kondusif antara supervisor dan guru dan iklim kerja sekolah. Karena itu keterbukaan, rasa saling bertanggungjawab, saling percaya, dan kesadaran untuk memajukan mutu pembelajaran harus ada dan dimiliki bersama oleh guru, kepala sekolah dan supervisor.

DAFTAR PUSTAKA

Aqib, Zainal. 2009. Penelitian Tindakan Sekolah. Bandung: Yrama Widya.
Aqib, Zainal. Rohmanto, Ilham. 2008. Membangun Profesionalisme Guru dan Pengawas Sekolah. Bandung : Yrama Widya.
Dadang, Suhardan. 2007. Supervisi Bantuan Profesional. Bandung : Mutiara Ilmu Bandung
Depdiknas. 2001. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Jakarta : Ditjendiknas.
Depdiknas. 2003. Pedoman Supervisi Pengajaran. Jakarta : Ditjendiknas
Depdiknas. 2002. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Jakarta : Ditjendiknas
Depdiknas. 2002. Pengembangan Sistem Pendidikan Tenaga Kependidikan Abad ke 21 (SPTK-21). Jakarta.
Direktorat Tenaga Kependidikan. 2009. Melaksanakan Penelitian Tindakan Sekolah Sebagai Kegiatan Pengembangan Profesi Pengawas Sekolah. Jakarta.
———. 2009. Penelitian Tindakan Sekolah Sebagai Karya Tulis Ilmiah Pengembangan Profesi Pengawas Sekolah. Jakarta.
Glickman, C.D. 1985. Supervision of Intruction. Boston: Allyn and Bacon Inc.
Purwanto, Ngalim. 2004. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Jakarta : Remaja Rosdakarya.
Purwanto, Ngalim. 2003. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung : Rosdakarya.
Waite, D. 1991. Intructional Supervision from a Situational Perspective. Teaching and Teacher Education, 8 (4), 319-332.
Pusat Kurikulum Badan Penelitian dan Pengembangan Depdiknas. 2001. Kurikulum Berbasis Kompetensi Kebijakan Umum Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta : Depdiknas.
Sahertian, P.A. 2000. Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Rineka Cipta.
Satori, Djam’an. 1989. Pengembangan Model Supervisi Sekolah Dasar (Penelitian terhadap Efektivirtas Sistem Pelayanan/Bantuan Profesional bagi Guru-guru SD di Cianjur Jawa Barat). Disertasi Doktor pada PPS IKIP Bandung: tidak diterbitkan.
Sujana, Nana. 2008. Supervisi Akademik (membina profesionalisme guru melalui supervisi klinis) . Jakarta : LPP Bina Mitra
Sulu Lipu La Sulo. 1998. Supervisi Klinis Pendekatan Bimbingan dalam Penyelenggaraan Program Pengalaman Lapangan (PPL). Jakarta: Depdikbud Dirjen Dikti PPGSM.
——— 2008. Penelitian Tindakan Kepengawasan (konsep dan aplikasinya bagi pengawas sekolah). Jakarta : LPP Bina Mitra
——— 2008. Kompetensi Pengawas. Jakarta : LPP Bina Mitra
Supriyanto, Eko. 2006. Pedoman Pelaksanaan Supervisi Klinis di Sekolah. Surakarta : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Sutisna, Oteng. 1993. Administrasi Pendidikan: Dasar Teoritis untuk Praktek Profesional. Bandung: Angkasa.
Wiles, J. and Bondi, J. 1980. Supervision: A Guide to Practic. Sydney: Charles E. Merril Publishing Company.
Winardi. 1996. Manajemen Supervisi. Bandung: Mandar Maju

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s